Tuesday, February 16, 2016

Menahan Diri

Kedewasaan seseorang bisa jadi dapat diukur dari seberapa besar orang itu dapat menahan diri. Ya, menahan diri dari emosi, baik emosi yang baik maupun emosi yang buruk. Enggak akan menggunakan istilah yang sulit untuk mendefinisikan emosi baik dan emosi buruk disini. Emosi baik seperti luapan rasa bahagia yang berlebihan. Emosi buruk seperti luapan marah yang berlebihan. 

Postingan ini aku hanya ingin meluapkan apa yang aku rasakan saat ini. Jenis emosi seperti apakah yang aku punya saat ini?. Andai terapi otak yang ada di novelnya Tere Liye "hujan" bener-bener ada, rasanya aku ingin menekan Ctrl+X (delete). Apa yang ingin aku delete?. saat ini aku ingin mendelet memori yang mampu membuat emosiku gak stabil. 

Ya, andai hard disk yang ada di otak ini seperti halnya hard disk yang ada di komputer. Aku bisa pilih-pilih file mana yang gak aku butuhkan atau aku suka, gampangnyaaa... tinggal klik kanan lalu klik delete. Ah, tapi jika hard disk ini ada di otak manusia, tentu tidak akan semudah itu bukan?. Ah, yaa.. andai dunia kedokteran dan teknologi udah bisa memetakan memory manusia, ingin banget ingin banget aku hapus memori itu.

Baiklah... kuteggakkan sandaran kursi kerjaku, kutegakkan punggungku, kuhela nafas dan kutahan dibawah diafragma kemudian kuhembuskan dengan perlahan. Kupejamkan mata sejenak... kunikmati rasa sakit yang menyesakkan ini, lalu... kubuka mata ini dan terakhir aku terseyum. 

Kali ini aku mampu menahan diri, walaupun masih berkecamuk. Setidaknya, aku bisa memasang topeng bahagia di hadapan orang-orang. Akan kusimpan uneg-uneg ini nanti malam dihadapan Dia. Pada akhirnya aku hanya perlu berusaha untuk menjadi dewasa di usiaku yang tak muda lagi.

ya sudahlah... karena memang sudah salah start. senyum itu solusinya. 

Sunday, February 14, 2016

Kemarau Merindukan Hujan

Akhirnya, setelah sekian lama,
Bisa bertemu dan bercengkrama,
Seperti kemarau yang merindukan hujan.

14 Februari 2016

Thursday, February 11, 2016

Kupu-kupu terbang dalam hujan (1)

Kulajukan si Poetih dengan kecepatan sedang. Sengaja aku tak pasang AC di sore yang dihiasi langit biru sendu tanpa segerombolan awan pun menghiasinya.

Cendela kaca si Poetih kanan dan kiri kubuka utuh. Semilir... Yaaa semilir angin menerpa pipi kanan dan kiri. Benar-benar aku menikmati hembusan angin yang sesekali menyenggol aroma pewangi green tea dari si Poetih, semerbak dan menenangkan. Aku suka dengan aroma green tea, mulai dari pewangi ruangan, tubuh, dan buat aroma pada saat melunturkan otot2 badan yang kaku, kupastikan selalu beraroma green tea.

Suara Sebrang vocalis band letto empuk banget terdengar dikupingku yang yeah... kurang bisa mendeteksi nada dengan baik. Istilah dari kawan baikku aku menderita cacat nada. Hahaha.. semena2 dia menjulukiku dengan sembarangan.

Ditengah2 #reff, tiba2 suara dari radio si Poetih yang hampir tak pernah berpindah frekuensi terhenti digantikan dering telepon. Kutahu dari layar LCD, Wendy-ya.. Dialah sahabat baikku yg sedang mencoba mengontakku. Aku cuek saja, toh system sudah aku set dering ketiga akan otomatis terhubung.

"Hallo hallooooooo....." suara cempreng renyah terdengar dari tempat yang kutak tahu di mana keberadaannya.
"Hallooooo.... Comel woy! Areee you thereee....?!?"
"Iye, gw sedang nyetir"
"Hehehe... Cool amat lu, nanti sore jangan lupaaa yaaak"
"Sekarang udah sore..."
"Jam 6, Mel.. Jangan lupa janji blind date lu ma duren. Jangan malu2in gw yang udah susah payah bikinin janji antara die ma lu"
"Iyeeh...bawel... Bawal... Gurameh... Gw sedang oooteeeweeh!"
"Okeeee cantik, kabarin gw selepas lu ketemuan ma Rony". Klik
"Eeeh...."
Sialan si comel Wendy, gw... Ah, ya sudahlah, liat saja nanti. Toh kalo sudah jodoh, belum ketemu aja sudah bisa tuh yang namanya jatuh hati. Tapi, kalopun gak jodoh, mo pacaran bertahun-tahun yaaa.. gak akan bersatu juga dalam ikatan resmi a.k.a menikah yg tercatat oleh negara.

Pas di fly over setelah Kuningan, sebelah kiriku ada baliho yang memamerkan eh mengiklankan produk gadget terkini dengan promosinya kamera paling canggih di kelasnya. Deg! Aku... Sangat familiar sekali dengan icon gadget itu, sketsa kupu-kupu dari goresan pencil hanya menonjolkan warna hitan dari arsiran pencil. Yaa... Aku gak akan salah, aku kenal sekali.. Ingin rasanya aku manuferin si Poetih untuk memastikannya. Tapiii... Ini jalan raya yang searah. Aaah.... Ingat dengan janji dengan duda beranak dua. Degupan hati ini tak menentu, bimbang harus memutuskan apa? Belok kiri puter balik, atau lurus  langsung menuju plaza indonesia? Ah... Tangan dan pedal gas ini menuntun si Poetih berjalan lurus.
Yaa sudahlah, lagipula Aku bisa memastikannya nanti pas pulang. Tak apalah... demi Wendy sobat sekaligus agen jodoh gratisku selama bertahun-tahun.

Sekilas aku menerawang 12 tahun yang lalu.. Hmmm kira-kira aku berumur 26 tahun. Kupu-kupu itu... Aku tlah jatuh hati dengan seseorang yang menorehkan sketsa kupu2 di bukuku tg Our Solar system- ini buku impor pertama yg aku punya dan dikirim langsung dari Aussy oleh tanteku yang kebetulan sedang study doctoral di Sydney. Jadi, pas buku ini ketinggalan di galeri budaya, kebetulan saat itu sedang apa pameran sketsa pencil berbicara, aku seperti orang yang kalang kabut lebaynya hingga memasang selebaran tentang hilangnya buku ini.

Hari ketiga, aku kembali ke galeri dan kebetulan pas hari terakhir pameran aku mendapatkan amplop coklat dari petugas pameran. Daaan surpriseee... Isinya adalah bukuku yang hilang. Tapi, ada yang berbeda dari bukuku itu. Di lembar paling depan, ada seseorang yang tlah menggambarkan kupu-kupu, hanya dengan drawing pen. Aku tahu ituuu...  Dia menggambar menggunakan drawing pen, sederhana. Terpekik hatiku dan mengutuknya dengan gak sopan. Berani sekali orang itu mencoret2 bukuku. Tapi lama-lama aku sangat penasaran dan jatuh hati dengan si penggambar misterius. Kok bisa?- entahlah.. tapi bagiku rasa suka bisa muncul itu hal yg sangat wajar. Karena suka dikendalikan oleh otak yang memerintahkan hormon penumbuh rasa suka.
Wendy, sobatku sejak kuliah... bilang kalo aku psycopat. Hahahahahaha... Itulah dia.

Dan, kupu-kupu itu menjadi icon (mungkiiin-mirip sepintas). Okey, aku harus memastikannya hari ini juga!.

Dug!... Deuh...!
Ngelamunnya kelamaan, pantesan dari tadi sayup-sayup terdengar klakson berteriak2. Si Poetih mundur rupanya, rasanya sih sudah di handrem. Sial!. Sebagai bentuk tanggung jawabku, aku pinggirkan si Poetih di plataran holand bakery depan lapangan menteng. Mobil yang aku sudruk mundur.. Juga ikut menepi, ooops... Baru nyadar aku mobilnya keren juga (oddesey). Seharusnya mobilnya gak apa2lah... Bember si Poetih yang lecet dikit-die jadi korban.

Ooh.. Sepasang suami istri (mungkin),
"Maaf, pak... Saya tadi tdk cekatan"...
"Mbak, bu... Lain kali hati2 donk kalo nyetir. Bisa nyetir gak?!"...
Eeeit dah... Galak amat si bapak nie
"Sekali lagi maaf pak, tapi saya lihat mobil bapak tidak kenapa2, mobil saya yang sepertinya lecet"
"Saya tidak mempersoalkan mobil ini, saya ingin memperingatkan ibu, lain kali harus hati2"
"Oh.... Siap pak!"

Untunglah... Gak diminta ganti rugi gw. Hah! Fokus Mela, okeee... Plasa Indonesia juga bentar lagi sampe.

(Bersambung)...

Tentang aku

Aku jatuh cinta dengan pria manis yang mengajarkanku salam,
Cintaku tak berbalas,
Bertahun-tahun aku masih mencintainya,
Hingga pada akhirnya perasaan itu hilang,
Suatu hari aku bertemu dengannya,
Dan aku jatuh cinta lagi dengannya,
Sayang dia sudah suami orang lain,
Ah,... Andai aku berjuang lebih keras lagi,
Karena hanya laki-laki inilah yang membuat aku merasa jatuh cinta.

Aku pernah dilamar orang dengan kedudukan yang menjanjikan,
Kebutuhan finansial gak perlu dikhawatirkan,
Tapi aku menolaknya,
Lantaran attitudenya terhadapku,
Pas pertama kali bertemu, aku menambahkan daftar sikap laki2 yang kubenci.
Ya, aku membenci laki-laki,
Tapi aku bukan dari golongan yang menyintai sesama jenis.

Aku terpesona dengan pria muda,
Dia menyambut perasaanku,
Inilah pertama kali aku merasakan dicintai dan mencintai,
Tapi, karmakah ini?
Atau anugrahkah ini?
Ketika aku mengetahui kenyataan, semakin aku menyanyangi pria mudaku ini,
Aku percaya Tuhan menitipkannya kepadaku,
Tapi, jalan kami sungguh sulit...
Pada akhirnya ketika cinta pria muda ini tak terbatas sudah,
Aku mulai menyadari satu hal,
Kami tak mungkin bersatu,
Kalopun dipaksakan akan ada yang terluka,
Aku tidak ingin melukai orang2 di sekelilingku.
Ketika aku menikahinya, apakah aku telah mengkhianati kepercayaan ku?
Ketika aku tidak menikahinya, apakah Tuhan akan memarahiku karena tak bisa menjaganya?
Aku bimbang....

Dan akupun pernah melamar,
Melamar orang asing yang tak kuketahui keberadaanya, sosoknya, wujudnya.
Hahaha.. Ya, ini hal tergila yang pernah aku lakukan di bilangan menjelang tiga puluh enam ini.
Saat itu, satu keyakinanku,
Dia orang baik, dan aku tlah jatuh hati dengan niatnya.
Tapi, aku sudah ditolaknya.
Ditolak dengan sangat halusnya, penuh basa-basi.
Bagiku iya itu Ya, tidak itu tidak, ndak ada wilayah abu2.
Bagaimanapun juga terimakasih, karena memilih abu2.

Inilah kisah cintaku,
Jika dibilang cacat cinta terlalu mainstream,
Aku selalu bersyukur untuk anugrah rasa ini dari Tuhan,
Karena ini menunjukkan aku masih hidup.

Depok, Feb 2016
Aku dan bilangan tiga puluh enam

Wednesday, February 10, 2016

Sepenggal kisah dari sepotong Cassava (1)

Ini bukan kisahku, tapi kisah dari seorang petualang dan seorang penjaga. Bukan kisah cinta yang mendayu-dayu, namun bukan pula kisah cinta yang gagah... sebuah kisah yang biasa-biasa saja... karna sangat biasanya, pasti setiap orang pernah mengalaminya.

Kisah sepotong cassava hangat yang menumbuhkan cinta. Mari kita mulai...

Mamak aku yang satu ini suka sekali menyuguhkan singkong selagi hangat ke para pengunjung gunung  yang singgah ke gubuk di samping pos penjaga. Gubuk.. Ya... bapak aku yang memberikan rumah kecil berlantai dan berdinding kayu dengan nama Gubuk Harapan. Walaupun namanya Gubuk, tapi aku sangat nyaman dan menyukai rumah ini, tak ada sedetikpun terlintas dalam pikiran untuk meninggalkan Gubuk. Gubuk ini dibangun di atas tanah warisan leluhur aku, entah bagaimana ceritanya yang pasti pemerintah lokal telah menasbihkan menjadi bagian dari Taman Nasional Gunung Serdang. Jadi, aku dan mamak aku tidak akan khawatir akan terkena gusur akibat dari peraturan zona-zona yang membatasi ruang gerak kami warga kampung terhadap hutan leluhur sebagai sumber penghidupan kami. Gubuk kami, konstruski bangunan hampir 90% menggunakan kayu, akibatnya sangat nyaman untuk ditinggali, siang terasa sejuk dan hangat di malam hari. Halaman depan Gubuk dihiasi hamparan rumput gajah yang selalu menghijau, dan dipinggir serambi gubung berhiaskan setidaknya 3 jenis orchid hutan, yaitu Macodes Petola (Ki Aksara), Coelogyne pandurata, dan satu lagi aku tak tahu nama latinnya- kuberi nama dia the lost orchid. Jenis Macodes petola yang paling banyak ditemukan di halaman belakang Gubuk dengan luas kurang lebih seluas kota besar bernama Jakaruta.

Bapak aku telah meninggal tergelincir saat membantu mengevakuasi para pendaki yang tersesat di gunung Serdang sekitar lima tahun yang lalu. Jasad bapak ndak ditemukan, karena medan yang curam dan tidak memungkinkan untuk mencari ke dalam jurang karena peralatan yang ndak memenui standar evakuasi. Mamak dan aku tentu sedih ditinggal oleh bapak, tapi kami bahagia untuk bapak yang meninggalkan dunia menyatu dengan gunung dan kembali ke Sang Pencipta Kami. Bagi kami Gubuk adalah tempat berteduh dan hutan Serdang adahal jiwa kami.

Mamak aku seorang wanita kuat, hingga sekarang mamak aku masih sering menelusur gunung. Bukan untuk mencari bapak, tapi hanya sekedar jalan-jalan dan bercengkrama sama Sang Khalik. Ndak ada sedikitpun rasa takut atau khawatir, antara hutan dan mamak telah menyatu dalam jiwa. Mamak sangat pandai memasak. Masakan mamak paling sedap di dunia dan itu diakui oleh pendatang yang memang sengaja mampir ke Gubuk. Aku belum pernah merasakan makanan lain selain masakannya mamak. Tandingannya cuma makanan kemasan yang sering ditinggalkan oleh para pengunjung, ndak ada satupun dari makanan kemasan itu yang aku suka.

Aku, ya aku.. aku cuma seorang gadis yang katanya remaja, entar umurku berapa. Aku ndak tahu dan ndak pernah memikirkannya. Tapi kata mamak aku lahir sewaktu ada kebakaran hebat di Hutan Serdang dan itu kira-kira 22 tahun yang lalu. Ya.. aku ndak pernah mengenyam pendidikan formal atau sekolah. Pernah mamak dan bapak mengirimku ke desa terdekat ditipkannya aku ke paman agar aku bisa sekolah. Tapi cuma bertahan sebulan aku sanggup mengikuti serangkaian aturan.Aku gak tahan, akhirnya paman mengembalikan aku ke mamak dan bapak. Untunglah, bapak dan mamak tang mengganggap bahwa sekolah itu penting, karena yang penting adalah pendidikan. Alhasil, walaupun aku tak pernah mengenyam sekolah lebih dari sebulan, tapi pengetahuanku tentang biodiversitas hutan Serdang melebihi petugas hutan yang sering berganti-ganti. Kemapuan bahasa asingku english sangat fasih, mandarin dan jepang bisa jika cuma buat percakapan ringan. Aku mendapatkan pendidikan dan pengajaran dari alam, seringnya peneliti yang lebih menyukai tinggal di Gubuk daripada di mess yang sudah disiapkan mengakibatkan aku belajar banyak. Mereka suka meninggalkan buku-buku yang seringkali aku lahap ketika sedang tidak mengantar tamu menjelah hutan Serdang.

Kelemahanku hanya satu, aku tak pernah meninggalkan area gubuk dan hutan Serdang. Aku tumbuh menjadi gadis yang tangguh. Kata orang-orag aku cukup manis, kulitku memang hitam tapi terawat. Mamak aku mengajarkan cara merawat kulit dari daun-daunan yang bisa aku peroleh di hutan, Oops.. aku megambil seperlunya saja tanpa ada unsur keserakahan, seperti orang-orang yang pasti langsung kami curigai kalo punya itikad buruk. Mamak aku paling pandai membaca situasi seperti itu. Tubuh aku atletis seperti mamak dan tinggi seperti bapak. Kata Browners- aku manggil dia Broni, salah satu tamu dari negara yang hanya kutahu namanya yaitu Jerman kalo aku mirip dengan tokoh fiktif bernama Lara Croft. Hahahha... ndak tahu siapa dia.

Kharisma yang terpancar di muka mamak aku, membuat orang-orang enggan mengganggu kami. Kurang lebih, bapak dan mamak menjadi orang yang sangat disegani bagi para tamu yang akan masuk ke hutan Serdang. Itu satu hal lain keuntungan buatku, sehingga aku ndak perlu merawa khawatari dengan gangguan dari laki-laki iseng. Tapi toch, aku pun bisa menjaga diri, Bapak benar-benar mempersiapkan aku untuk menjadi wanita yang tangguh dan cerdas. Ndak perlu sekolah untuk menjadi tangguh dan cerdas, rupanya.

Suatu hari,
Gandeeeeeeesss.........................!!!! suara mamak aku gak biasa-biasanya menggelegar. Biasanya sangaaaatlah lembut ini mengapa tiba-tiba ..

(bersambung)


Monday, February 1, 2016

Pseudoteaching: Refleksi Menjelang 12 Tahun Mengajar (Part-2)

Baiklah,
Pernahkan anda mengalami keadaan pseudoteaching?
Bagiaman sih pseudoteaching itu?
Aku beri contoh yang pernah aku lakukan saja selama ini:

Tahun pertama aku ngajar sebagai guru baru:
Biasalah, guru baru masih muda dengan idealism yang tinggi dan suara menggelegar. Sampai-sampai aku dijuluki “guru TOA”; “guru badai” soalnya kalo jalan cepet palagi pas ngomong cuuepeeeet dan kenceng. Hahaha… mengingatnya, bikin senyum dan nyengir terkembang. Ya, dulu aku kalo ngajar semangat banget, antusias, persiapan ngajar enggak tanggung-tanggung, semua metode aku coba. Tapi apakah anak-anak pada saat itu mengalami proses belajar?!. Surprise sekali…hasil yang dicapai enggak maksimal. Hmm… waktu itu ngajar kelas X materi eksponen. Anak-anak masih bingung kalo dua pangkat min satu itu sama dengan setengah. Padahal, aku merasa cara aku mengajar benar, aku semangat, aku memotivasi. Mau tahu?...Rupaya, selama durasi itu aku nyroooocoooos ajah tanpa memberikan kesempatan ke anak untuk berfikir, mengolah informasi, menelaah, memahami. Aku beranggapan “ah, materi ini mudah.. Cuma bolak-balik saja”. persepsi “ini mudah”. Nerangin trus kasih variasi soal beres to?!…. . Jawabannya adalah  “TIDAK”.

Selama proses pembelajarn kelihatannya baik. Guru menyampaikan materi dengan suara lantang (tapiii… jangan kekencenegn juga keles…), memotivasi siswa. Siswa pun terlihat baik-baik saja, mencatat, memperhatikan. Tapi yang terjadi adalah.. seolah-olah siswa hanya menonton pertunjukkan demonstrasi dari sang guru… hehehehe… -Itu contoh pseudoteaching. Jujur kuakui, pada saat itu sedikit sekali siswa yang mengalami proses belajar.

Tahun kelima aku mengajar:
Jeda lima tahun ini aku mencari bentuk pembelajaran matematika yang efektif dan menyenangkan. Nah.. tahun 2008 hingga kurun waktu tiga atau empat tahunan kedepan sekitar 2012, tahun booming blog, Edmodo, e-learning, semua serba online. Aku pikir ketika aku bisa menginternaliasasikan IT ke dalam pembelajaranku—sepertinya akan keren deh… makanya aku membuat kelas virtual dengan harapan murid-murid aku yang gak bisa masuk kelas tatap muka, masih bisa mengunduh materi atau mengikuti kuis secara online.

Tetapi, pernah aku berpikir. Materi yang aku unduh ini bermanfaat tidak ya buat anak-anak. Lalu aku membuat polling untuk kelas virtual yang aku bikin di Edmodo, hasilnya adalah 63% (bilangan yang mendekati- ) mengatakan tidak puas dengan kelas virtual yang ada, dengan alasan jaringan tidak stabil sehingga malah bikin repot, karena harus ke warnet. Seharusnya aku harus membuat pra study tentang penggunaan internet di kalangan siswa- enggak bisa hanya berasumsi, ah.. masak anak sekolah ini kesulitan menemukan jaringan internet. NO WAY !!!...

Pada akhirnya, saya berpikir bahwa solusi untuk masalah pendidikan di tengah arus teknologi ini adalah bagaimana kita menyikapi teknologi sebagi tools. Sehingga itu tergantung dari Anda, apakah model pembelajaran ini merupakan pembelajarn yang semu atau tidak.
Bagaimanapun pengajaran yang terbaik hanya bisa dilakukan bila ada interaksi atau hubungan antara guru dan murid secara langsung, mendiskusikan suatu permasalahan dan menyelesaikan suatu situasi yang baik maupun buruk. Tut wuri handayani, Ing madyo mangun karso dan Ing ngarso sung tulodho.

Ya, gegap teknologi masih menjadi PR buatku hingga saat ini.. agar tercipta pembelajaran konkrit bukan pembelajarn semu lagi.

Setelah tahun 2013 hingga sekarang:
Pseudoteaching seperti apa yang aku lakukan?

bersambung ....

Pseudoteaching: Refleksi Menjelang 12 Tahun Mengajar (part-1)

Tulisan ini sangat bebas, berasal dari pikiran yang bebas, tanpa ada dukungan literasi yang kuat dan mumpuni. Hanya sebuah renungan suatu siang....jadi mohon maaf bila sedikit ngaco.

Istilah pseudo dalam dunia pendidikan hampir tidak ditemukan, khususnya pendidikan matematika. Catatan dari para ahli pendidkan tentang Revitalisasi Pendidikan Matematika sedikit sekali yang menyinggung istilah ini. Rata-rata mereka menyinggung tentang self-efficacy, self-regulation, belief, anxiety, procrastination, berfikir kreatif,   

Secara terminologi, istilah pseudo diartikan sebagai sesuatu yang tidak sebenarnya atau dengan kata lain semu. Teaching diartikan sebagai mengajar. Mengajar adalah suatu aktivitas atau upaya yang dilakukan oleh seseorang (baca: guru) untuk menciptakan suatu kondisi bagi orang lain (baca: murid) agar mencapai proses belajar. Sedangkan belajar adalah suatu pengalaman yang diterima dari seoarang individu untuk mencapai kondisi lebih baik.

Pesudo-teaching berarti dapat diartikan sebagai mengajar semu, artinya ketika seorang guru sedang mengajar, tampak memang sedang mengajar, akan tetapi proses yang terjadi di dalam kelas bukan proses dari suatu perencanaan yang baik, hanya berupa intuisi dan insting yang telah melekat dari guru tersebut, sehingga tampaknya mengajar namun sesungguhnya guru tersebut hanya mentransfer ilmu tanpa memperhatikan proses kognitif murid-muridnya, karena yang dilihat hanya hasil kognitif semata.

Dua belas tahun mengajar, bukan suatu bilangan yang kecil jika dikonversi ke dalam hari atau ke dalam jatah jam mengajar yang minimal mendapatkan 20 jam ngajar tiap minggunya. Banyak siswa pun telah mencapai ribuan, katakanlah setiap tahun banyak murid yang diajar adalah 100 siswa (minimal), jika 12 tahun mengajar maka sudah 1.200 murid yang pernah dihadapi. Jika setiap murid memiliki karakteristik dan keunikan masing-masing individu berbeda-beda (tentu berbeda), maka bisa dikatakan guru itu sudah pernah menghadapi seribu dua ratus karakter dari murid. Suatu jumlah yang fantastis dan bila setiap murid memiliki jurnal masing-masing, maka guru itu memiliki koleksi sebanyak 1.200 peristiwa dan perkembangan individu dalam proses pembelajaran yang tentu saja bila tercatat dengan baik.

Topik tentang pseudo-teaching ini aku angkat sebagai refleksi pribadi atas prestasi yang pernah aku capai, yaitu prestasi dengan tetap konsisten mengajar selama 12 tahun ini.  Selain itu, ada sebuah pertanyaan yang dilontarkan dari kawan sekaligus tante aku, yaitu “Kalo sudah lulus terus mau ngapain?”.

Pertanyaan yang simple, tapi seharian aku merenung dan akhirnya aku mutusin mau melanjutkan tulisan tentang pseudo-teaching. Tahun lalu topik ini yang rencananya mau aku ambil sebagai bahan research, sayangnya literasi tentang pseudo sendiri masing sangat minim. Hanya ada satu jurnal yang membahas tentang topik ini dan itupun sudah sangat lama, tahun 1938 dari E.C.Cline. Akan tetapi ada satu kawan aku yang berani mengambil topik ini-sehingga aku layak angkat topi buat dia. Ohya, Istilah ini aku peroleh pas ngikutin matkul Psikologi Pendidikan Matematika yang diampu oleh Pak Anton Noornia.  

Pernyataan mendasar selama kontemplasi di warung bakso yang deket kampus UNJ:     
  1. Selama aku mengajar suatu topik tertentu, hanya dua kemungkinan, yaitu: sukses atau gagal; ukuran sukses atau gagal pun bisa berlaku secara personal maupun klasikal.
  2. selama aku mengajar ini, benarkah aku membuat dan melaksankan rencana pembelajaran dengan baik dan setelah itu ada refleksi?
  3. Selama aku mengajar, bagaimana pendekatanku ke murid?. Bankinisme atau constructifisme?
Di sini saya tidak sedang berbicara tentang cara mengajar yang benar-benar buruk atau jenis yang gagal melibatkan siswa dalam proses pembelajaran atau gagal dalam melakukan perbaikan. Namun, saya akan membahas tentang pengajaran yang terdengar bagus, terlihat baik-baik saja dalam pelaksanaan namun tidak menciptakan perubahan dalam pengetahuan.

Oke, refleksi lagi:
  1. berapa kali aku mengupgrade jenis-jenis soal yang akan kuberikan ke siswa
  2. pernahkah aku berfikir alasan mengapa aku memberikan contoh soal atau soal seperti ini atau hanya sekedar sedapetnya saja. akibatnya contoh soal di tiap-tiap kelas bisa bervariasi tergantung dari daya ingatku pada saat kasih materi.

Oke, refleksi lagi:
Misalkan ketika aku mengajar materi turunan ke siswa kelas XI jurusan IPA atau jurusan IPS deh. Oke, aku punya rencana pembelajaran yang tertuang dalam bentuk RPP. Salah satu indikatornya adalah siswa dapat menentukan turunan pertama fungsi aljabar. Okeey.. tentu cara aku mengajar yang sudah-sudah adalah (yang paling mudah bener-bener paling mudah) adalah memberikan aturan atau rule atau rumus turunan pertama fungsi. Kemudian memberikan variasi soal-soal yang harus dikuasai eh atau diigat oleh siswa kemudian memberikan trik-trik cara mengerjakan soal. Okey… hasil yang dicapai memuaskan bahkan sangat memuaskan. 
Nampaknya, pembelajaran sangat berhasil to?! Karena toh selama pembelajarn menggunakan pendekatan pembelajarn yang bervariasi, bisa LKS, scaffolding, atau cooperative. Akan tetapi, apakah dapat dipastikan bahwa siswa memahami apa turunan itu?! Jawabannya adalah TIDAK.

Saya berani bertaruh, siswa-siswaku itu tidak memahami apa maksud dari turunan itu. Mereka akan paham (mungkin) ketika sudah duduk di bangku kuliah dan mendapatkan mata kuliah kalkulus (begitu ungkapan dari siswa-siswaku). Mereka baru memahami bahwa Ooo.. turunan itu laju perubahan suatu fungsi.

Tentu saja, bagi siswaku lebih menyenangkan buat mereka untuk mencari turunan suatu fungsi dengan tingkat kesulitan yang masih dapat mereka jangkau untuk dikerjakan (pada area perkembangan proksimal-istilah dari Vygotsky yaitu ZPD-Zone Proximal Development) dengan cara yang standard dan baku (mungkin looh… ini adalah asumsi bebasku).

bersambung......

Categories

Labels

zube's verden

zube's FunClub