Thursday, February 11, 2016

Kupu-kupu terbang dalam hujan (1)

Kulajukan si Poetih dengan kecepatan sedang. Sengaja aku tak pasang AC di sore yang dihiasi langit biru sendu tanpa segerombolan awan pun menghiasinya.

Cendela kaca si Poetih kanan dan kiri kubuka utuh. Semilir... Yaaa semilir angin menerpa pipi kanan dan kiri. Benar-benar aku menikmati hembusan angin yang sesekali menyenggol aroma pewangi green tea dari si Poetih, semerbak dan menenangkan. Aku suka dengan aroma green tea, mulai dari pewangi ruangan, tubuh, dan buat aroma pada saat melunturkan otot2 badan yang kaku, kupastikan selalu beraroma green tea.

Suara Sebrang vocalis band letto empuk banget terdengar dikupingku yang yeah... kurang bisa mendeteksi nada dengan baik. Istilah dari kawan baikku aku menderita cacat nada. Hahaha.. semena2 dia menjulukiku dengan sembarangan.

Ditengah2 #reff, tiba2 suara dari radio si Poetih yang hampir tak pernah berpindah frekuensi terhenti digantikan dering telepon. Kutahu dari layar LCD, Wendy-ya.. Dialah sahabat baikku yg sedang mencoba mengontakku. Aku cuek saja, toh system sudah aku set dering ketiga akan otomatis terhubung.

"Hallo hallooooooo....." suara cempreng renyah terdengar dari tempat yang kutak tahu di mana keberadaannya.
"Hallooooo.... Comel woy! Areee you thereee....?!?"
"Iye, gw sedang nyetir"
"Hehehe... Cool amat lu, nanti sore jangan lupaaa yaaak"
"Sekarang udah sore..."
"Jam 6, Mel.. Jangan lupa janji blind date lu ma duren. Jangan malu2in gw yang udah susah payah bikinin janji antara die ma lu"
"Iyeeh...bawel... Bawal... Gurameh... Gw sedang oooteeeweeh!"
"Okeeee cantik, kabarin gw selepas lu ketemuan ma Rony". Klik
"Eeeh...."
Sialan si comel Wendy, gw... Ah, ya sudahlah, liat saja nanti. Toh kalo sudah jodoh, belum ketemu aja sudah bisa tuh yang namanya jatuh hati. Tapi, kalopun gak jodoh, mo pacaran bertahun-tahun yaaa.. gak akan bersatu juga dalam ikatan resmi a.k.a menikah yg tercatat oleh negara.

Pas di fly over setelah Kuningan, sebelah kiriku ada baliho yang memamerkan eh mengiklankan produk gadget terkini dengan promosinya kamera paling canggih di kelasnya. Deg! Aku... Sangat familiar sekali dengan icon gadget itu, sketsa kupu-kupu dari goresan pencil hanya menonjolkan warna hitan dari arsiran pencil. Yaa... Aku gak akan salah, aku kenal sekali.. Ingin rasanya aku manuferin si Poetih untuk memastikannya. Tapiii... Ini jalan raya yang searah. Aaah.... Ingat dengan janji dengan duda beranak dua. Degupan hati ini tak menentu, bimbang harus memutuskan apa? Belok kiri puter balik, atau lurus  langsung menuju plaza indonesia? Ah... Tangan dan pedal gas ini menuntun si Poetih berjalan lurus.
Yaa sudahlah, lagipula Aku bisa memastikannya nanti pas pulang. Tak apalah... demi Wendy sobat sekaligus agen jodoh gratisku selama bertahun-tahun.

Sekilas aku menerawang 12 tahun yang lalu.. Hmmm kira-kira aku berumur 26 tahun. Kupu-kupu itu... Aku tlah jatuh hati dengan seseorang yang menorehkan sketsa kupu2 di bukuku tg Our Solar system- ini buku impor pertama yg aku punya dan dikirim langsung dari Aussy oleh tanteku yang kebetulan sedang study doctoral di Sydney. Jadi, pas buku ini ketinggalan di galeri budaya, kebetulan saat itu sedang apa pameran sketsa pencil berbicara, aku seperti orang yang kalang kabut lebaynya hingga memasang selebaran tentang hilangnya buku ini.

Hari ketiga, aku kembali ke galeri dan kebetulan pas hari terakhir pameran aku mendapatkan amplop coklat dari petugas pameran. Daaan surpriseee... Isinya adalah bukuku yang hilang. Tapi, ada yang berbeda dari bukuku itu. Di lembar paling depan, ada seseorang yang tlah menggambarkan kupu-kupu, hanya dengan drawing pen. Aku tahu ituuu...  Dia menggambar menggunakan drawing pen, sederhana. Terpekik hatiku dan mengutuknya dengan gak sopan. Berani sekali orang itu mencoret2 bukuku. Tapi lama-lama aku sangat penasaran dan jatuh hati dengan si penggambar misterius. Kok bisa?- entahlah.. tapi bagiku rasa suka bisa muncul itu hal yg sangat wajar. Karena suka dikendalikan oleh otak yang memerintahkan hormon penumbuh rasa suka.
Wendy, sobatku sejak kuliah... bilang kalo aku psycopat. Hahahahahaha... Itulah dia.

Dan, kupu-kupu itu menjadi icon (mungkiiin-mirip sepintas). Okey, aku harus memastikannya hari ini juga!.

Dug!... Deuh...!
Ngelamunnya kelamaan, pantesan dari tadi sayup-sayup terdengar klakson berteriak2. Si Poetih mundur rupanya, rasanya sih sudah di handrem. Sial!. Sebagai bentuk tanggung jawabku, aku pinggirkan si Poetih di plataran holand bakery depan lapangan menteng. Mobil yang aku sudruk mundur.. Juga ikut menepi, ooops... Baru nyadar aku mobilnya keren juga (oddesey). Seharusnya mobilnya gak apa2lah... Bember si Poetih yang lecet dikit-die jadi korban.

Ooh.. Sepasang suami istri (mungkin),
"Maaf, pak... Saya tadi tdk cekatan"...
"Mbak, bu... Lain kali hati2 donk kalo nyetir. Bisa nyetir gak?!"...
Eeeit dah... Galak amat si bapak nie
"Sekali lagi maaf pak, tapi saya lihat mobil bapak tidak kenapa2, mobil saya yang sepertinya lecet"
"Saya tidak mempersoalkan mobil ini, saya ingin memperingatkan ibu, lain kali harus hati2"
"Oh.... Siap pak!"

Untunglah... Gak diminta ganti rugi gw. Hah! Fokus Mela, okeee... Plasa Indonesia juga bentar lagi sampe.

(Bersambung)...

No comments:

Categories

Labels

zube's verden

zube's FunClub