Monday, February 1, 2016

Pseudoteaching: Refleksi Menjelang 12 Tahun Mengajar (Part-2)

Baiklah,
Pernahkan anda mengalami keadaan pseudoteaching?
Bagiaman sih pseudoteaching itu?
Aku beri contoh yang pernah aku lakukan saja selama ini:

Tahun pertama aku ngajar sebagai guru baru:
Biasalah, guru baru masih muda dengan idealism yang tinggi dan suara menggelegar. Sampai-sampai aku dijuluki “guru TOA”; “guru badai” soalnya kalo jalan cepet palagi pas ngomong cuuepeeeet dan kenceng. Hahaha… mengingatnya, bikin senyum dan nyengir terkembang. Ya, dulu aku kalo ngajar semangat banget, antusias, persiapan ngajar enggak tanggung-tanggung, semua metode aku coba. Tapi apakah anak-anak pada saat itu mengalami proses belajar?!. Surprise sekali…hasil yang dicapai enggak maksimal. Hmm… waktu itu ngajar kelas X materi eksponen. Anak-anak masih bingung kalo dua pangkat min satu itu sama dengan setengah. Padahal, aku merasa cara aku mengajar benar, aku semangat, aku memotivasi. Mau tahu?...Rupaya, selama durasi itu aku nyroooocoooos ajah tanpa memberikan kesempatan ke anak untuk berfikir, mengolah informasi, menelaah, memahami. Aku beranggapan “ah, materi ini mudah.. Cuma bolak-balik saja”. persepsi “ini mudah”. Nerangin trus kasih variasi soal beres to?!…. . Jawabannya adalah  “TIDAK”.

Selama proses pembelajarn kelihatannya baik. Guru menyampaikan materi dengan suara lantang (tapiii… jangan kekencenegn juga keles…), memotivasi siswa. Siswa pun terlihat baik-baik saja, mencatat, memperhatikan. Tapi yang terjadi adalah.. seolah-olah siswa hanya menonton pertunjukkan demonstrasi dari sang guru… hehehehe… -Itu contoh pseudoteaching. Jujur kuakui, pada saat itu sedikit sekali siswa yang mengalami proses belajar.

Tahun kelima aku mengajar:
Jeda lima tahun ini aku mencari bentuk pembelajaran matematika yang efektif dan menyenangkan. Nah.. tahun 2008 hingga kurun waktu tiga atau empat tahunan kedepan sekitar 2012, tahun booming blog, Edmodo, e-learning, semua serba online. Aku pikir ketika aku bisa menginternaliasasikan IT ke dalam pembelajaranku—sepertinya akan keren deh… makanya aku membuat kelas virtual dengan harapan murid-murid aku yang gak bisa masuk kelas tatap muka, masih bisa mengunduh materi atau mengikuti kuis secara online.

Tetapi, pernah aku berpikir. Materi yang aku unduh ini bermanfaat tidak ya buat anak-anak. Lalu aku membuat polling untuk kelas virtual yang aku bikin di Edmodo, hasilnya adalah 63% (bilangan yang mendekati- ) mengatakan tidak puas dengan kelas virtual yang ada, dengan alasan jaringan tidak stabil sehingga malah bikin repot, karena harus ke warnet. Seharusnya aku harus membuat pra study tentang penggunaan internet di kalangan siswa- enggak bisa hanya berasumsi, ah.. masak anak sekolah ini kesulitan menemukan jaringan internet. NO WAY !!!...

Pada akhirnya, saya berpikir bahwa solusi untuk masalah pendidikan di tengah arus teknologi ini adalah bagaimana kita menyikapi teknologi sebagi tools. Sehingga itu tergantung dari Anda, apakah model pembelajaran ini merupakan pembelajarn yang semu atau tidak.
Bagaimanapun pengajaran yang terbaik hanya bisa dilakukan bila ada interaksi atau hubungan antara guru dan murid secara langsung, mendiskusikan suatu permasalahan dan menyelesaikan suatu situasi yang baik maupun buruk. Tut wuri handayani, Ing madyo mangun karso dan Ing ngarso sung tulodho.

Ya, gegap teknologi masih menjadi PR buatku hingga saat ini.. agar tercipta pembelajaran konkrit bukan pembelajarn semu lagi.

Setelah tahun 2013 hingga sekarang:
Pseudoteaching seperti apa yang aku lakukan?

bersambung ....

No comments:

Categories

Labels

zube's verden

zube's FunClub